Sabtu, 24 Januari 2015

Alat KB

Alat Kontrasepsi KB
Posted by Alat Kontrasepsi
Hampir semua pasangan suami -istri
memerlukan perencanaan yang matang
dari kehamilan guna untuk membatasi
jumlah anak dan menekan angka
kelahiran yang semakin bertambah.
Banyak para pasangan suami-istri
melakukan program keluarga berencana
yang memang diharuskan. Alasan
penggunaan alat kontrasepsi bagi para
pasangan suami-istri untuk menunda
kehamilan, memberi jarak antara anak
pertama dengan anak kedua sampai
pada tujuan yang mungkin bagi
pasangan suami-istri yang telah
dikarunia banyak anak dengan
menghentikan kehamilan.
Banyak alasan yang dikemukakan para
pasangan suami-istri dalam
menggunakan alat kontrasepsi yang
mungkin disertai adanya suatu faktor
yang terlihat seperti adanya faktor
ekonomi, faktor kesiapan mental, faktor
usia hingga faktor kesehatan.
Alat kontrasepsi memiliki berbagai
macam jenis. Secara garis besar, alat
kontrasepsi dibagi menjadi 3 bagian
yakni kontrasepsi mekanik, kontrasepsi
hormonal, dan konstrasepsi mantap.
Berikut ulasan singkat dari berbagai
macam atau jenis alat kontrasepsi :
1. Kontrasepsi mekanik
Disebut mekanik, karena memiliki sifat
untuk melindungi. Kontrasepsi mekanik
ini bekerja dengan cara mencegah
pertemuan antara sel sperma dengan sel
telur yang ada di dalam rahim. Yang
termasuk dalam kontrassepsi mekanik
ini , ialah kondom dan diafragma.
a. Kondom
Kondom yang dahulu terbuat dari usus
atau kulit binatang, yang jika digunakan
harus direndam terlebih dahulu, kini ada
kondom yang terbuat dari bahan karet
yang tipis dan elastis (lentur) berbentuk
seperti kantong. Pada dasarnya fungsi
kondom hanya untuk menampung sperma
agar tidak masuk ke dalam vagina.
Penggunaan kondom dinilai cukup efektif
mencegah kehamilan hingga 90 %.
Bahkan penggunaan kondom untuk
pencegahan kehamilan akan semakin
efektif apabila disertai penggunaan
spermisida (pembunuh sperma) namun
jarang sekali ditemukan pasangan suami
istri yang menggunakan spermisida.
Namun kemungkinan terjadinya
kehamilan masih dapat terjadi dari
survei yang dilakukan dari 100 pasangan
suami-istri yang menggunakan alat
kontrasepsi ini sekitar 4 orang wanita
yang terjadi kehamilan.
Kondom mudah didapat, dan harga
relatif terjangkau, tidak memerlukan
resep dokter. Kondom selain berfungsi
sbagai pencegah kehamilan, kondom juga
dapat digunakan sebagai suatu alat
bantu dalam pencegahan penularan
penyakit kelamin seksual.
b. Diafragma
Diafragma bentuknya hampir
menyerupai kondom. Diafragma
berbentuk seperti topi yang menutupi
mulut rahim. Diafragma terbuat dari
bahan karet namun agak tebal
dibanding dengan kondom. Kondom
berbahan karet tipis yang masih
memiliki kemungkinan terjadinya
kebocoran. Namun berbeda dengan
diafragma yang berbahan karet tebal
sehingga tidak memungkinkan
terjadinya kebocoran. Diafragma ini
hanya digunakan ketika ingin melakukan
hubungan intim, usai melakukan aktivitas
seksual dapat dilepaskan kembali atau
tetap berada pada tempatnya. Jenis
kontrasepsi yang satu ini cukup efektif
dalam mencegah kehamilan yang cara
kerjanya hanya dimasukkan ke dalam
vagina, untuk mencegah masuknya
sperma ke dalam rahim.
c. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR/IUD)
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau IUD
atau yang lebih dikenal sebagai alat
kontrasepsi spiral. AKDR atau IUD ini
berbentuk alat kecil dan banyak variasi.
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/
IUD) atau spiral ini ada yang terbuat
dari plastik seperti huruf S (Lippes Loop)
, tembaga yang berbentuk seperti angka
7 (tujuh/ Copper Seven) dan huruf T
(Copper T) serta ada yang berbentuk
seperti sepatu kuda (Multiload).
Dari beberapa jenis alat kontrasepsi
dalam rahim atau IUD ini yang paling
sering digunakan adalah jenis Copper T
dan Multiload. Kedua alat kontrasepsi
tersebut dipilih karena kenyamannya.
Adapula model terbaru dari Copper T
yakni Nova T yang memiliki keunggulan
karena lebih lembut.
Alat kontrasepsi Dalam Rahim ini hanya
dapat dilakukan dan dipasang lelh
dokter ahli atau bidan yang sudah
terlatih. Fungsi dari AKDR ini adalah
mencegah kehamilan dengan mencegah
sel telur yang telah dibuahi bersarang
di dalam rahim. AKDR atau IUD dapat
bertahan di dalam rahim selama 2-5
tahun dan dapat dikeluarkan kembali
apabila ada keinginan untuk hamil
kembali.
Namun disarankan bagi wanita atau
istri yang menggunakan Alat
Kontrasepsi Dalam rahim ini harus
melakukan pemeriksaan ulang, entah 2
minggu sekali, 3 bulan sekal, 6 bulan
sekali atau 1 tahun sekali setelah
pemasangan alat konrasepsi ini.
Penggunaan alat kontrasepsi yang
dipilih tanpa adanya bahan aktif Copper
dapat digunakan hingga menjelang
menopause, namun apabila penggunaan
alat kontrasepsi yang mengandung
bahan aktif Copper 3-4 tahun harus
diganti.
Hal yang perlu diingat alat kontrasepsi
jenis ini dapat menimbulkan infeks
vagina, pendarahan, keputihan yang
disebabkan dari benang pada alat
kontrasepsi yang digunakan. Disarankan
apabila terdapat infeksi genetalia atau
pendarahan yang tidak jelas sebaiknya
jangan menggunakan alat kontrasepsi
jenis ini. Namun keuntungan dari alat
kontrasepsi jenis ini adalah dapat
digunakan dalam jangka waktu yang
cukup lama dan tidak mempengaruhi
produksi ASI bagi ibu atau wanita yang
sedang dalam menyusui balita.
d. Spermisida
Spermisida merupakan alat kontrasepsi
yang berbahan kimia yang dapat
membunuh sperma. Spermisida memiliki
variasi bentuk ada yang berbentuk busa,
jeli, krim, tablet vagina, tablet atau
aerosol. Penggunaan alat kontrsepsi jenis
ini memang dinilai kurang efektif karena
dapat menimbulkan ketidaknyaman,
ketidak puasan pasangan dalam
mencapai orgasme dan menimbulkan
alergi yang tidak enak.
Namun masih ada beberapa wanita yang
menggunakan alat kontrasepsi jenis ini.
Kontrasepsi jenis ini digunakan dengan
cara sebelum melakukan hubungan
seksual, alat ini dimasukkan ke dalam
vagina, dan tunggu sekitar 5-10 menit
pemasangan, hubungan sekual baru
dapat dilakukan. Keefektifan alat
kontrasepsi ini dinilai efektif apabila
dikombinasikan dengan alat lain seperti
kondom atau diafragma.
Jenis alat kontrasepsi apapun masih
memungkinkan terjadinya kehamilan.
untuk alat kontrasepsi jenis ini, menurut
survei dari 100 pasanagn dalam setahun,
ada 3 wanita yang haml, bahkan ada
beberapa kasus yang terjadi karena
salah pemasangan atau pemakaiannya,
dapat terjadi kehamilan sampai 30
kehamilan.
2. Kontrasepsi Hormonal
Jenis kontrasepsi hormonal ini diambil
dari kombinasi antara hormon estorgen
dan progesteron. Penggunaan
kontrasepsi jenis ini dilakukan dalam
bentuk pil, suntikan atau susuk.
Kontrasepsi hormonal ini dilakukan
dengan cara menggunakan hormon
progesteron dengan mencegah
pengeluaran sel telur dari indung telur
dan mengentalkan cairan di leher rahim
sehingga sel sperma kesulitan untuk
menembus masuk ke sel telur, membuat
lapisan rahim menjadi tipis dan hasil
konsepsi tidak dapat tumbuh, serta
menghambat jalannya saluran telur
sehingga sel sperma sulit bertemu
dengan sel telur.
a. Pil atau Tablet
Dengan minum pil KB merupakan salah
satu alat kontrasepsi yang banyak
digunakan para wanita atau istri dari
sekian banyaknya alat kontrasepsi. Di
Indonesia, banyak wanita yang
menggunakan PIL KB atau disuntikan
sebagai alat kontrasepsi yang dinilai
aman. Pil KB memiliki berbagai macam,
ada pil yang hanya mengandung hormon
progesteron, adapula yang mengandung
kombinasi antara progesteron dan
estrogen.
Namun penggunaan pil KB ini dinilai
cukup rumit karena menggunakan sistem
kalender laykanya siklus haid
(sekuensial). Dengan menggunakan
sistem kalender ini mereka para wanita
dapat mengetahui batasan waktu dalam
mengkonsumsi pil KB ini. Pil KB
menggunakan 2 cara yakni
- Diminum dengan menggunakan sistem
28, yang artinya pil diminum terus-
menerus tanpa berhenti (21 tablet pil
kombinasi dan 7 tablet plasebo)
- Dengan sistem 22/21, yakni pil diminum
terus-menerus, kemudian dihentikan
selama 7-8 hari untuk mendapatkan
kesempatan menstruasi.
Namun pada beberapa wanita yang
menggunakan Pil KB sebagai alat
kontrasepsi ini, mengalami siklus
menstruasi dengan perbandingan.
Apabila wanita mengkonsumsi pil KB
dengan efek estorgen yang tinggi akan
mengalami menstruasi kurang dari 4
hari. Sedangkan dengan menggunakan
pil KB dengan kadar estrogen yang
rendah akan mengalami menstruasi lebih
dari 6 hari.
Efek samping dari penggunaan alat
kontrasepsi ini menyebabkan seorang
wanita mudah tersinggung, mudah
tegang dan stress, bertambahnya berat
badan, nyeri kepala, darah menstruasi
yang banyak seperti pendarahan.
Sedangkan yang berkolaborasi
progesteron menyebabkan payudara
tegang, menstruasi berkurang, kaki dan
tangan sering kram, liang senggama
menjadi kering.
Efek samping lainnya dari pemakaian pil
KB dalam jangka waktu yang cukup lama
akan menekan fungsi ovarium. Tak
hanya itu efek samping lainnya seperti
rasa mual sampai muntah, pusing, mudah
lupa, timbul bercak di kulit wajah seperti
flek hitam sampai mempengaruhi fungsi
organ ginjal dan hati. Pil KB yang
mengandung estrogen dapat
mengganggu produksi ASI.
Kelebihan dari pil KB ini dapat
meningkatkan gairah seksual, sekaligus
sebagai obat untuk mengobati penyakit
endometriosis. Haid menjadi teratur,
mengurangi nyeri haid, dan mengatur
keluarnya darah haid. Efektifitas
penggunaan pil ini 95-98 persen. Jadi,
ada sekitar 7 wanita yang hamil dari
1.000 pasangan dalam setahun.
b. Suntikan
Kontrasepsi yang menggunakan sutikan
mengandung hormon sintetik.
Penyuntikan ini dilakukan 2-3 kali dalam
sebulan. Suntikan setiap 3 bulan
(Depoprovera), setiap 10 minggu
(Norigest), dan setiap bulan (Cyclofem).
Salah satu keuntungan suntikan adalah
tidak mengganggu produksi ASI.
Pemakaian hormon ini juga bisa
mengurangi rasa nyeri dan darah haid
yang keluar.
Kontrasepsi dengan menggunakan
suntikan ini dapat membuat tubuh
mengalami kenaikan berat badan karena
menigkatnya nafsu makan. Tak hanya
itu membuat lendir rahim menjadi tipis
sehingga menstruasi menjadi sedikit,
bahkan beberapa wanita tidak
mengalami menstruasi sama sekali.
Tingkat kegagalannya hanya 3-5
wanita hamil dari setiap 1.000 pasangan
dalam setahun.
c. Susuk
Susuk juga digunakan sebagai alat
kontrasepsi wanita atau yang juga
disebut sebagai alat kontrasepsi bawah
kulit, karena dipasang di bawah kukit
pada lengan kiri atas. Bentuk susuk ini
seperti tabung-tabung kecil atau
pembungkus silastik (plastik berongga)
dan ukurannya sebesar batang korek
api. Susuk dipasang seperti kipas dengan
6 buah kapsul. Susuk yang ditanam
dibawah kulit ini berisi zat aktif yang
berupa hormon atau levonorgestrel.
Kemudian susuk tersebut akan
mengeluarkan hormon sedikit demi
sedikit. Susuk ini bekerja dengan cara
menghalangi terjadinya ovulasi
(pembuahan) dan menghalangi migrasi
sperma.
Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5
tahun (Norplant) dan 3 tahun
(Implanon). Sekarang ada pula yang
diganti setiap tahun. Penggunaan
kontrasepsi ini biayanya ringan.
Pencabutan bisa dilakukan sebelum
waktunya jika memang ingin hamil lagi.
Efektifitasnya, dari 10.000 pasangan,
ada 4 wanita yang hamil dalam setahun.
Dampak negatif dari penggunaan alat
kontrasepsi jenis susuk ini berupa
terganggunya menstruasi, haid tidak
lancar, bercak atau tidak mengalami
menstruasi sama sekali. Selain itu
mengalami kenaikan berat tubuh,
ketegangan payudara dan liang vagina
terasa kering. Timbul infeksi pada
pencabutan susuk yang disebabkan susuk
sulit untuk dikeluarkan karena
pemasangan susuk yang terlalau dalam.
3. Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap, jarang sekali
dilakukan para pasangan suami-istri.
Kalau pun dilakukan didasari alasan
yang sangat umum yakni merasa cukup
dengan jumlah anak yang dimiliki.
Kontrasepsi mantap ini dilakukan
dengan jalan operasi pemotongan atau
memutuskan saluran sperma pada pria
yang disebut vasektomi begitu pula
dengan wanita memutuskan atau
memotong saluran sel telur yang disebut
dengan tubektomi. Sehingga tidak akan
terjadi kehamilan kembali atau tidak
akan memiliki keturunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar